Langsung ke konten utama

Postingan

LGBT...Biar Kekinian...

Awalnya gw ga tau, apa LGBT itu? Serius gak tau. Gw pikir lembaga apa getu. Sampai om Google ngasi tau singkatannya. Maklum, gw gak gaul.  Dalam beberapa hari ini, timeline gw isinya singkatan itu. Dari mulai singkatan asli, sampai plesetan ala alay, lebay sampai singkatan ngarep.  Ada yang mendukung, ada yang protes keras. Ada yang bertameng agama, ada yang berstandar pada kemanusiaan. Gara-gara pemilik kedai kopi dukung LGBT, minuman di dalam perut jadi haram. Gara-gara komputer yang bikin LGBT, yang gunain dianggap munafik.  Bingungkan? Nulis status mengarah kemanusiaan dibilang dukung LGBT. Taruh status dalil-dalil agama, dibilang ilmunya dah ketinggian. Indonesia banget lah. Kalau menyinggung satu ini, jadi ingat teman waktu kuliah. Dia traktir gw saat ingin curhat. Curhatnya ya soal LGBT ini. Dia sedang memilih untuk jadi pria sejati atau mengikuti sisi lain dirinya, alias gay. Makanan yang gw makan haram dong? OMG..."Tuhan maafkan aku sebagai teman saya tak...

Hijab dan Sahabat

Fenomena hijab!  Itu kalimat yang terlontar dari sebuah kawan di media sosial Facebook, tak berselang lama setelah kawan-kawan mempublish foto saya yang menggunakan kerudung. Dari judul itu, dia mengkritisi, perempuan-perempuan muda atau siapapun yang mulai mengenakan kerudung. Istilah sekarang ada yang bilang hijrah.  Dia menulis panjang lebar tentang tren jilbab yang digunakan para perempuan di Indonesia. Dalam tulisannya, dia menilai para perempuan mengenakannya bukan karena keyakinan tapi karena ikut-ikutan.  Saya tak mengomentari pernyataan itu. Justru saya bertanya pada diri saya sendiri, apa benar tujuan saya seperti itu.  Sebelum mendapat jawabannya, saya akan bercerita sedikit tentang pencarian saya tentang agama. Saya lahir dan langsung tak mengenal ayah dan ibu kandung saya. Saya dibesarkan oleh orang tua yang tak memiliki latar belakang agama yang kuat. Kalau bisa dibilang, mungkin islam abangan.  Kedua orang tua yang membesarkan saya, be...

Bumi Itu Bentuknya Jajaran Genjang! (Sebuah cerita segar)

"Bumi itu datar!" katanya dengan mantap. Kami semua terdiam. Saling menatap mendengar pernyataannya. Sedangkan gw membenamkan wajah di balik  layar komputer. Menahan ketawa agar tidak pecah. Gw terkejut. Itu pasti. Ternyata ada beberapa orang yang gw kenal meyakini betul bumi itu datar. "Ada penjelasannya ga bumi itu datar? Karena selama ini gw taunya bumi itu bulat," cetus seorang kawan dengan wajah yang coba diperlihatkan serius. "Ini semua dasarnya karena keyakinan gw. Dari pelajaran yang gw peroleh ya seperti itu," tegas dia. Kami masih terpaku dengan jawabannya. Bukan terpukau tapi merasa aneh dan mulai tergelitik untuk menanyakan lebih jauh dasar keyakinannya itu. "Ada ceritanya dari balik keyakinan lo itu," tanya seorang kawan lagi. "Jadi gini, dulu ada seorang yang berjalan sampai ujung bumi. Mentok di kutub dan ga bisa lagi. Itu ujung bumi," terang dia. "Ujung bumi itu di kutub?," cetus gw. "Iya dari situ orang...

Jamie Vardy

Buruh Pabrik yang Memukau Pentas Liga Inggris "Saya tak pernah berpikir bisa tampil di Liga Inggris, apalagi timnas Inggris. Saya tak bohong kepada Anda." Jamie Vardy, photo by ballball.com Jamie Vardy mengucapkan kalimat ini tak lama setelah namanya dipanggil Timnas Inggris. Wajahnya sumringah ketika namanya ada dalam deretan skuat The Three Lions. Dia mengisi barisan depan bersama nama besar seperti Wayne Rooney. Striker langganan yang belum tergantikan. Rasanya tak percaya. Itu yang ada dalam benaknya. Roy Hodgson memasukkan namanya untuk pertandingan melawan Irlandia dan Slovenia. Kegembiraan tak hanya miliknya. Mantan rekan-rekannya di klub lama ikut merayakan keberhasilannya menembus tim nasional, tempat yang selalu jadi dambaan banyak pesepakbola. Apalagi Timnas Inggris. Telepon genggam Vardy terus berdering dan banyak pesan masuk. Sampai-sampai baterei handphone miliknya cepat habis. "Baterei telepon saya mati hampir sejam lebih. Ketika saya kembali mench...

Preview Chelsea vs Arsenal: Right Time for Arsenal Came to Chelsea

LONDON - Kembalinya Petr Cech ke Stamford Bridge tak lagi menjadi perhatian utama kala Arsenal berkunjung ke markas Chelsea, Sabtu (9/9). Justru kondisi terpuruk "The Blues" yang akan menjadi sorotan.  Chelsea kini hanya satu strip di atas zona degradasi. Tiga kekalahan dari lima pertandingan awal musim ini, mulai dihajar Manchester City (1-3), takluk dari Crystal Palace (1-2) dan menyerah 1-3 dari Everton menempatkan mereka di peringkat 17 klasemen. Kekalahan dari Arsenal bisa melempar mereka ke zona itu. Perjalanan kompetisi memang masih panjang, tapi status sebagai juara bertahan tentu menjadi gengsi hingga terlempar jauh ke dasar.  Bobroknya lini pertahanan menjadi kendala terbesar tim asuhan Jose Mourinho. Kendati sang pelatih sudah berusaha bongkar pasang memperkokoh lini belakang, hasilnya belum menjanjikan.  Barisan penyerang Chelsea juga kurang tajam. Diego Costa belum menemukan sentuhan terbaik seperti saat dia memulai berkarier di Liga Inggris musim l...

Drogba...My Little Wing

Nama aslinya Fazriel Subhi As'ad. Begitu nama lengkap si bocah yang kini berumur tiga tahun itu.  Tapi, bagiku, dia adalah Didier Drogba. Legendaris Chelsea yang telah banyak memberi gelar bagi "The Blues".  Panggilan Drogba pun sejak dia lahir menjadi akrab bagi sebagian orang, terutama neneknya yang suka dengan nickname itu.  Drogba alias Ziel lahir 20 Mei 2012 atau 19 Mei 2012 waktu Eropa. Kenapa Eropa? Karena dia memang lahir menjelang subuh, saat di belahan Benua Biru menjelang malam.  Sebelum dia lahir, aku sudah bersiap untuk nonton bareng final Liga Champions. Laga final yang akan mempertemukan Chelsea dengan raksasa Jerman, Bayern Munich di Allianz Arena. 

Si Tua Sombong

Pria tua beruban putih dan mobilnya yang juga veteran berhenti di depan rumah. Wajahnya terlihat sayu. Berjalan pelan dengan punggung membungkuk.  Kami terkejut. Bukan kali pertama dia menjejakkan kaki di rumah kami yang sangat sederhana.  Ada rasa kecewa saat memandangnya. Kepongahan yang dia ucapkan dan kekuasaan seolah pemilik segalanya buat kami berpaling darinya.  Awalnya ketegasan dan kedisiplinannya coba kami pelajari. Dia si tua yang sukses menjalani bisnisnya. Kami ingin belajar darinya.  Caranya buat kami tertekan. Dia ingin memonopoli kami.  Tapi, kami bukan milik siapa-siapa. Kami orang merdeka yang bisa menentukan jalan bersama orang lain. Belajar dari setiap individu tanpa harus memandang kasta, tahta bahkan harta.  Cerita kesuksesannya yang bernada sombong dengan caranya pamer harta saat kami sudah tahu apa yang dia miliki, buat rasa kagum kami memudar. "Saya punya Pajero, saya punya Alphard, saya punya ini dan itu," itu katanya s...