Langsung ke konten utama

Postingan

Jamie Vardy

Buruh Pabrik yang Memukau Pentas Liga Inggris "Saya tak pernah berpikir bisa tampil di Liga Inggris, apalagi timnas Inggris. Saya tak bohong kepada Anda." Jamie Vardy, photo by ballball.com Jamie Vardy mengucapkan kalimat ini tak lama setelah namanya dipanggil Timnas Inggris. Wajahnya sumringah ketika namanya ada dalam deretan skuat The Three Lions. Dia mengisi barisan depan bersama nama besar seperti Wayne Rooney. Striker langganan yang belum tergantikan. Rasanya tak percaya. Itu yang ada dalam benaknya. Roy Hodgson memasukkan namanya untuk pertandingan melawan Irlandia dan Slovenia. Kegembiraan tak hanya miliknya. Mantan rekan-rekannya di klub lama ikut merayakan keberhasilannya menembus tim nasional, tempat yang selalu jadi dambaan banyak pesepakbola. Apalagi Timnas Inggris. Telepon genggam Vardy terus berdering dan banyak pesan masuk. Sampai-sampai baterei handphone miliknya cepat habis. "Baterei telepon saya mati hampir sejam lebih. Ketika saya kembali mench...

Preview Chelsea vs Arsenal: Right Time for Arsenal Came to Chelsea

LONDON - Kembalinya Petr Cech ke Stamford Bridge tak lagi menjadi perhatian utama kala Arsenal berkunjung ke markas Chelsea, Sabtu (9/9). Justru kondisi terpuruk "The Blues" yang akan menjadi sorotan.  Chelsea kini hanya satu strip di atas zona degradasi. Tiga kekalahan dari lima pertandingan awal musim ini, mulai dihajar Manchester City (1-3), takluk dari Crystal Palace (1-2) dan menyerah 1-3 dari Everton menempatkan mereka di peringkat 17 klasemen. Kekalahan dari Arsenal bisa melempar mereka ke zona itu. Perjalanan kompetisi memang masih panjang, tapi status sebagai juara bertahan tentu menjadi gengsi hingga terlempar jauh ke dasar.  Bobroknya lini pertahanan menjadi kendala terbesar tim asuhan Jose Mourinho. Kendati sang pelatih sudah berusaha bongkar pasang memperkokoh lini belakang, hasilnya belum menjanjikan.  Barisan penyerang Chelsea juga kurang tajam. Diego Costa belum menemukan sentuhan terbaik seperti saat dia memulai berkarier di Liga Inggris musim l...

Drogba...My Little Wing

Nama aslinya Fazriel Subhi As'ad. Begitu nama lengkap si bocah yang kini berumur tiga tahun itu.  Tapi, bagiku, dia adalah Didier Drogba. Legendaris Chelsea yang telah banyak memberi gelar bagi "The Blues".  Panggilan Drogba pun sejak dia lahir menjadi akrab bagi sebagian orang, terutama neneknya yang suka dengan nickname itu.  Drogba alias Ziel lahir 20 Mei 2012 atau 19 Mei 2012 waktu Eropa. Kenapa Eropa? Karena dia memang lahir menjelang subuh, saat di belahan Benua Biru menjelang malam.  Sebelum dia lahir, aku sudah bersiap untuk nonton bareng final Liga Champions. Laga final yang akan mempertemukan Chelsea dengan raksasa Jerman, Bayern Munich di Allianz Arena. 

Si Tua Sombong

Pria tua beruban putih dan mobilnya yang juga veteran berhenti di depan rumah. Wajahnya terlihat sayu. Berjalan pelan dengan punggung membungkuk.  Kami terkejut. Bukan kali pertama dia menjejakkan kaki di rumah kami yang sangat sederhana.  Ada rasa kecewa saat memandangnya. Kepongahan yang dia ucapkan dan kekuasaan seolah pemilik segalanya buat kami berpaling darinya.  Awalnya ketegasan dan kedisiplinannya coba kami pelajari. Dia si tua yang sukses menjalani bisnisnya. Kami ingin belajar darinya.  Caranya buat kami tertekan. Dia ingin memonopoli kami.  Tapi, kami bukan milik siapa-siapa. Kami orang merdeka yang bisa menentukan jalan bersama orang lain. Belajar dari setiap individu tanpa harus memandang kasta, tahta bahkan harta.  Cerita kesuksesannya yang bernada sombong dengan caranya pamer harta saat kami sudah tahu apa yang dia miliki, buat rasa kagum kami memudar. "Saya punya Pajero, saya punya Alphard, saya punya ini dan itu," itu katanya s...

Keberanian Andrew Jennings, FIFA dan Sepp Blatter

Nama Loretta Lynch mungkin tenar sebagai Jaksa yang menangkap para pejabat FIFA pada 27 Mei lalu. Tapi, nama lain ternyata menjadi kunci utama membongkar korupsi dan skandal FIFA yang sudah berurat akar di Federasi Sepakbola Dunia. Siapa Andrew Jennings? Usianya tak beda jauh dengan Blatter yang berusia 79, hanya lebih muda delapan tahun. Sama sepuhnya. Si Opa lahir di Skotlandia tapi besar di London, Inggris. Dunia sepakbola familiar dengannya karena kakeknya pemain dari klub Leyton Orient. Tapi, Jennings bukan pemain sepakbola. Dia seorang jurnalis investigasi yang sudah lebih dari separuh hidupnya membongkar kasus-kasus kriminal dan mafia, mulai dari perdagangan heroin di Thailand dan hingga kartel di era 80-an di Italia. Memasuki 90-an dia mulai menilisik International Olympic Committe alias Komite Olimpiade Internasional atas saran movie maker Hollywood, Paul Greengrass. Dari ceritanya, Jennings mulai menangkap ada jaring korupsi di badan olahraga dunia itu. Juan Antonio Samaran...

Monk dan Taksi Ojek Bergigi Merah...

Cerita ini nanti saya akan tulis...dan bagaimana perjalanannya...

Tiba-tiba Muncul dan Mendadak Hilang

Malam mulai merambat dini hari ketika sebuah panggilan datang... Wow...terkejut tak terbilang bukan karena hantu atau setan yang tiba-tiba mengejutkan dari balik telepon genggam... Sebuah pernyataan cinta... Tak bisa rasanya kepala ini dipikir kisah kasih sayang saat bergulat dengan pekerjaan dan keterkejutan... Datang dari kawan yang tak pernah terlintas akan mengucapkan kata-kata bak seorang pujangga kawakan... Sepenggal kisah malam itu berlanjut lewat kata-kata dan kalimat-kalimat bertutur meski aku masih tak percaya... Jelas...cinta bukan hal mudah untuk diumbar atau bilang sayang kalau tanpa perasaan... Perjuangannya cukup gigih untuk menunjukkan kebenaran kalimat-kalimatnya... Berusaha meyakinkanku agar aku percaya dia bukan pengobral cinta... Aku goyah... Pintu hati yang tertutup rapat coba aku buka meski rasa percaya itu masih belum ada... Awalnya datang dengan cukup meyakinkan... Bak seorang arjuna yang menunjukkan kegagahan sebagai lelaki jant...