Langsung ke konten utama

Postingan

The Switch.... Sahabat jadi Cinta.....

28 September 2010 "The Switch"...film ini menggambarkan bagaimana seorang perempuan ingin memiliki anak tapi tak ingin terikat perkawinan. Budaya Barat di Amerika, memudahkan hasratnya untuk mewujudkan mimpinya, dengan inseminasi buatan. Memilah pendonor sperma dengan mencari pria yang dapat menurunkan gen terbaik bagi anaknya kelak. Walau, nasib berkata lain, karena sperma sahabatnya yang akhirnya dia dapatkan, karena adanya kejadian tak terduga yang baru diketahui tujuh tahun kemudian. Kendati ini hanya sebuah film yang berdasarkan novel Jeffrey Eugenides, tapi sepertinya kisah seperti ini tak hanya terjadi di Amerika. Terutama soal hasrat memiliki anak. Aku jadi teringat beberapa tahun lalu, ketika sahabatku ingin sekali memiliki anak tapi tidak ingin menikah. Usia memang tak dapat dielakkan jika hasrat memiliki anak semakin kuat, ketika umur kita makin matang, ada rasa keibuan yang timbul sebagai perempuan. Aku juga merasakan seperti itu......

Orang Miskin Dilarang Sakit!

Suatu malam pada 2002 atau mungkin 2003, gw ingat betul ketika sepupu gw terbaring lemah di UGD RSCM. Kecelakaan yang menimpanya membuat dia harus mendapat perawatan intensif. Saat kritis, di UGD, gw ingat betul di samping dia ada seorang lelaki setengah baya...dia seorang tukang parkir yang tertabrak mobil, begitu kata temannya, dibalik pintu UGD. Ketika itu, RSCM tidak seketat seperti sekarang, dari balik UGD, gw dapat melihat langsung sepupu gw. Ya, butuh uang lima juta di depan administrasi mereka, ketika sepupu gw baru mendapatkan perawatan (gw ingat gw harus balik dari Salemba ke Sawangan, Depok untuk mencari pinjaman dan mengambil uang yang ada di keluarga, walaupun itu tengah malam). Tapi, apa yang terjadi dengan tukang parkir itu? Ini yang ga akan pernah gw lupakan....gw ingat betul ketika ada seorang dokter perempuan (kata keluarga gw mungkin dia dokter baru)..mungkin juga...tapi bukan itu yang gw ingat, tapi perkataannya untuk si tukang parkir...dengan sepatu hak tinggi, dok...

Piala Dunia

Mexico Kuda Hitam dari Utara Kiblat sepak bola di benua Amerika berada di Selatan, yakni antara Brasil dan Argentina. Kendati begitu, di belahan Utara, Meksiko tak kalah jagonya. Sejarah telah membuktikan, ‘El Tri’selalu menjadi kekuatan menakutkan dari Utara Amerika. Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan ini, Meksiko kembali menjadi kuda hitam. Bergabung di grup A bersama tuan rumah Afrika Selatan, Uruguay dan Prancis. Dari sisi sejarah, Meksiko memang tak pernah mencapai partai puncak, berbeda dengan Prancis dan Uruguay yang pernah menjadi jawara. Namun tak berarti skuad Javier Aguirre dapat dipandang sebelah mata. Tak pernah absen dari pesta terakbar di dunia sejak Piala Dunia 1986 menjadi bukti, Meksiko memiliki ketangguhan seperti tim lainnya. Perlu diingat, empat tahun lalu di Jerman, Meksiko bahkan menjadi salah satu unggulan bersama tujuh tim besar lainnya. Belum lagi gelar juara Piala Konfederasi yang mereka rengkuh pada 2009 lalu dengan mengalahkan Amerika Serikat di final. Keku...

Good Sports Journalist

The following article is taken from the U.S. Department of State publication, Handbook of Independent Journalism.) By Deborah Potter Sports reporters do some of the best writing in journalism. Their stories naturally involve drama, emotions, and outsized personalities, says former TV sports reporter Bill Schwanbeck, who now teaches at Quinnipiac University in Connecticut. Good sportswriters do much more than report the score of a game or the results of an athletic competition. They provide the basics, of course, but they also provide perspective and context that the audience can’t get from being at the game or watching it on television. Sportswriters explain the why and how of what happened, not just the who and the what. They also report on the business of sports, and write feature stories about athletes, team owners, and fans. But sports reporters still have to start with the fundamentals. They need to be knowledgeable about all sports, understand the rules of the game or sport...

Didier Drogba: Pahlawan dari Abidjan

Sikap keras yang dimiliki Drogba dengan wajah garangnya seperti saat Chelsea melawan Barcelona di semi final Liga Champions musim lalu, masih tertanam dibenak pecinta sepak bola. Sikap temperamental yang memaksanya tidak tampil di tiga pertandingan awal Liga Champions musim ini, karena mengeluarkan kata-kata kasar. Ketidakadilan dari wasit Tom Henning Ovrebo yang membuat Drogba terusik. Sehingga ia lepas kendali dengan mencaci maki wasit asal Norwegia itu. Namun sesungguhnya sikap itu tak mewakili jiwa Drogba yang sebenarnya. Di luar lapangan, striker berusia 32 tahun ini memiliki jiwa pemimpin dan sosial yang tinggi. Drogba tak perlu berpikir panjang untuk membantu siapapun yang membutuhkan. Bukti nyata, ketulusan jiwa Drogba yakni peran aktifnya membangun tanah kelahiranya di Abidjan, Pantai Gading. Dengan rejeki melimpah yang dimilikinya sebagai pemain sepak bola dan bintang iklan, Drogba rela merogoh koceknya sendiri demi kemajuan nenek moyangnya. Di sana, Drogba membangun sebuah r...

Rindu untuk Ayah...

Dalam khayal kucoba bentuk wajahmu... Mencoba merangkai setiap cerita yang kudapatkan... Menjadi guratan untuk dapat menuntaskan garis-garis wajahmu... Tapi, semua selalu gagal.... Cerita-cerita itu hanya bisa membuatku berkhayal tentang dirimu... Wajahmu dan senyummu... Kujalani ini bulan demi bulan, tahun demi tahun... Sampai akhirnya aku berhenti untuk dapat melukismu...dalam pikiranku... Aku tak bisa lagi menerka guratan wajahmu.... Terlalu sulit bagiku untuk tahu siapa dirimu... Aku berhenti karena tak ada lagi yang mengisahkan perjalanan hidupmu... Pendongeng yang selama ini menceritakan tentang kisahmu.... Dia meninggalkan aku... Sama seperti dirimu... Ayah...bunda telah pergi... Kepergiannya membawa kisahmu yang hanya jadi khayalanku... Kisah ini terhenti, seiring kepergiannya...karena aku tak pernah tahu wajahmu.... Kerinduan sedari kecil akan tetap menjadi kerinduan... Ayah....aku ingin melihat wajahmu...bukan guratan khayalan.... Untuk ayahku... Rukamto dan kakekku Karto Sup...

Senyum ‘Ljuba Truba’

Ivan Ljubicic langsung merayakan suksesnya merebut gelar Masters di Indian Wells setelah sukses menundukkan petenis Amerika Serikat Andy Roddick 7-6(3), 7-6(5) di final. Bersama dua orang terdekatnya, istri dan anaknya Aida dan Leonardo, Ljubicic langsung berlibur di Palm Springs, Miami. Momen itu sekaligus merayakan ulang tahun Leonardo yang genap berusia satu tahun pada 21 Maret. Hanya berselang dua hari dari ulang tahun Ljubicic yang jatuh pada 19 Maret, di saat usianya mencapai 31 tahun. “Ini pekan yang menakjubkan. Melihat karier secara keseluruhan, saya pikir akan kehilangan ini. Ini sungguh luar biasa. Ini memberiku sesuatu dalam karier. Ini menambah torehan lainnya setelah Piala Davis, medali Olimpade, menembus 10 besar, masuk lima besar dan sekarang Masters 1000, semua terlihat lebih baik,” kata Ljubicic seperti dilansir BNP Paribas Open 2010. Senyum lebar dan kesederhanaan terlihat dari Ljubicic saat berlibur. Ia tak segan-segan menebarkan senyum bersama buah hati dan istriny...