Langsung ke konten utama

Postingan

Alberto Contador Terinspirasi Sang Adik

Semangat pantang menyerah ditunjukan Alberto Contador di Tour de France 2009. Tidak diperhitungkan dalam ajang terakbar balap sepeda kelas dunia ini, Contador terus mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Bersaing ketat dengan peraih tujuh gelar TdF Lance Armstrong tak membuatnya gentar. Kayuhan demi kayuhan membuatnya sampai satu titik tak lagi terkejar. Hingga dirinya menyandang yellow jersey, seragam kebanggaan bagi pebalap sepeda diakhir balapan. Anugrah tiada tara bagi Contador mengulang sukses dua tahun sebelumnya. Saat ia merebut gelar pertamanya di TdF. “Ini menjadi balapan tersulit untukku. Tapi saya begitu menikmatinya terutama karena gelar juaranya,” kata Contador seperti dikutip AP usai mendapatkan penganugerahan juara, akhir pekan lalu. Bukan hal mudah bagi Contador memilih jalan untuk dapat terjun penuh menjadi pebalap. Masa kecil Contador dihabiskan untuk menjadi seorang pesepakbola handal atau atletik. Dua olahraga inilah yang menjadi perhatian utamanya. Namun takdi...

Menjadi Batu

Karang terjal terlihat kokoh ketika ribuan deburan ombak menghempas Batu terjal terlihat kuat ketika menopang lingkaran goa Gunung api terlihat sombong ketika melempar ribuan ton batu ke atas bumi Sama halnya dengan aku…batu… Menjadi tak perduli… Menjadi tak mengerti… Sama seperti batu… Seperti karang yang menjadi kuat karena adanya deburan air dari laut Akupun sama… Aku menjadi batu karena adanya masa lalu yang membelenggu Aku menjadi batu karena hatiku menghitam karena tak punya rasa lagi Aku menjadi batu karena tak ada kasih sayang tulus yang kuterima Goa menjadi sebuah lingkaran karena ada waktu yang membelah bumi Akupun sama… Kikisan penderitaan membuatku tak lagi punya tujuan kecuali pengabdian Kepalsuan dan kemunafikan membuatku tak lagi tahu arti kepercayaan Hingga aku tak tahu lagi dimana harus kupijakan kaki dan keyakinan Muntahan ribuan batu di gunung api karena ada desakan lahar yang marah Akupun sama… Menjadi se...

Chris John Rambah Bisnis Internet

Habis manis sepah dibuang. Pepatah ini gambaran jelas para mantan atlet yang akhirnya harus berjuang di masa tua. Seiring lupanya pemerintah atas kiprah mereka. Kisah paling jelas, dialami petinju profesional Ellias Pical. Mantan petinju kelas bantam yang pernah menorehkan tinta emas di olahraga Indonesia. Pada masa jayanya Bung Elli begitu disanjung karena keberasilannya menjadi juara dunia. Sayang seiring waktu, namanya terlupakan. Bung Elli tenggelam dalam kesulitan hingga membawanya ke penjara. Bahkan, miris rasanya kini seorang juara dunia tak lebih dari sekedar pesuruh di kantor KON/KOI. Nasib seniornya ini tak ingin dialami Chris “The Dragon” John. Petinju yang baru mempertahankan gelar kelas bulu versi WBA (World Boxing Associaton) di Toyota Center, Houston Texas dari Rocky Juarez akhir pekan lalu mulai membangun bisnis masa depannya. Usaha yang diharapkan jadi tumpuan pemilik nama lengkap Yohannes Christian John jika tak lagi berada di dalam ring. Chris membangun ...

Cinta Mati Masha Untuk Rusia

Kebersamaan: Maria Sharapova (kedua dari kiri) bersama para bintang tenis Rusia lainnya, termasuk Dinara Safina (paling kanan). Sukses dan berprestasi di negeri seberang tak melunturkan rasa kebangsaan petenis Maria Sharapova terhadap Rusia. Negeri Beruang Merah tetap menjadi cinta mati Sharapova meski sudah lama meninggalkan Rusia sejak masih belia. Didalam hati Masha-begitu panggilan akrab Sharapova-, Rusia tetap menjadi nomor satu. Tak ada niat bagi dirinya untuk meninggalkan jejak sejarah negeri leluhurnya. “Saya selalu menganggap diri saya orang Rusia, terutama saat saya harus ke luar negeri. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk pindah kewarganegaraan,” ucap Masha seperti dikuti Pravda.com. Rasa nasionalisme Masha dalam beberapa tahun ini kerap menjadi pertanyaan. Lama tinggal di Amerika Serikat sejak usia tujuh tahun, ia selalu diragukan untuk tampil membawa nama Rusia. Peristiwa itu berawal pada 2004, ketika tim Fed Cup Rusia membutuhkan tenaganya. Ditengah keberhasilan...

Amaze Untuk Buah Hati

Keluarga: Taufik Hidayat, Alika dan Ami Gumelar. Menjadi seorang ayah spesial artinya bagi Taufik Hidayat. Sejak kelahiran anak pertamanya Natarina Alika Hidayat, buah cintanya bersama Ami Gumelar pada 3 Agustus 2007 lalu, pebulutangkis Indonesia ini tak pernah dapat lepas dari tiap gerak langkah sang buah hati. Ata, begitu panggilan akrab Taufik. Baginya, setiap waktu penting artinya untuk dapat melihat Ata yang kini berusia 1,5 tahun. Polah tingkah Ata tiap waktu menjadi momen berharga yang tak ingin dilewatkan. Di usianya yang masih belia, Ata yang bak kertas putih sedang berusaha menyerap seluruh pelajaran yang ada di sekitarnya. Tak ayal, pelan tapi pasti Ata mulai mengerti apa yang terjadi. Terkadang Taufik tak percaya, bahkan ketika buah hatinya sudah lancar bicara. Satu ketika, Ata pernah mengucapkan kata handuk hanya dengan kata belakang duk , kini ia sudah menyebutkannya lengkap. “ Amaze jika melihat dia. Hal kecil bagi saya menjadi besar. Terkadang kaget saja, eh ter...

Program Tandingan di Kukuhkan

Ruang Piramid Gedung KONI Jakarta, Kamis (12/2) terasa berbeda dalam pengukuhan pelatnas terpadu 2009. Diantara deretan puluhan atlet tak nampak wajah familiar yang sering jadi incaran para pemburu berita. Bahkan, didepan pintu para pewarta saling menanyakan para atlet yang hadir. “Kami tidak kenal. Sulit juga untuk menanyakan mereka satu persatu. Sepertinya junior semua,” celetuk salah satu wartawan. Tak ada lagi pembagian atlet seperti dua tahun lalu, berjejer tiap cabang. Kini, semua atlet disatukan. Bahkan, kabarnya atlet yang datang ke pengukuhan atlet asal Jakarta yang sengaja diwakilkan. Sebanyak 284 atlet dilatih termasuk didalamnya 113 atlet untuk Asian Martial Art Games. Hanya karateka Bambang Maulidin yang memiliki prestasi mumpuni. Peraih emas SEA Games 2005 ini bersama karateka terbaik Indonesia lebih mendukung pelatnas dibandingkan harus memilih Program Atlet Andalan (PAL). “Pelatnas jangka pendek untuk SEA Games. Jadi untuk program saya lebih memilih di...